Siapakah Rene Descartes ?

 1.  Pendahuluan

Asal usul Filsafat dan perkembangannya

Filsafat muncul pertama kali di Yunani pada abad ke 7 sebelum masehi, filsafat muncul yakni ketika orang-orang mulai berpikir kritis terhadap kejadian atau fenomena yang di alami berdasarkan pengalaman. Bermula dari rasa ingin tau bagaimana asal mula terbentuknya alam semesta, karena pada saat itu mitos-mitos ditengah-tengah masyarakat beberapa diantaranya memunculkan perdebatan, pertanyaan dan penelitian karena dianggab tidak masuk akal. Pemikiran filsafat pada periode ini di namakan filsafat Klasik, yaitu ketika orang-orang berfilsafat sebelum munculnya Agama dan ilmu pengetahuan, namun setelah gereja mengambil alih maka pemikiran dipengaruhi oleh gereja, tetapi rupanya agama belum dapat menjawab rasa penasaran sebelum kemudian orang mulai masuk pada filsafat abad pertengahan, pada era ini merupakan kelanjutan dari filsafat Klasik, pada masa ini ilmu pengetahuan dan akal budi tentang kebenaran dan keberadaan Tuhan dapat diterangkan secara masuk akal dan bijaksana.

Penelitian dan keberadaan sekolah-sekolah turut mendukung perubahan berpikir sehingga kemudian berlajut masuk pada masa Filsafat Modern yaitu ketika filsafat masuk pada cara berpikir yang bersumber dari akal (Rasio).

 2. Rene Descartes Bapak Filsuf Modern

Rene Descartes lahir di La Haye, Perancis pada tanggal 31 Maret 1959 dan  meninggal di Stockholm, Swedia pada tanggal 11 Februari 1650 pada usia 53 tahun.  Ia merupakan seorang filsuf dan matematikawan berkebangsaan Perancis dan menganut agama Katholik. Rene Adisebut sebagai bapak filsafat modern karena cara berfilsafatnya yang rasional, dan berdiri atas dasar keyakinan sendiri. Dia sekolah di Universitas Jesuites di La Fleche Perancis dari tahun 1604-1612 M, disinilah ia belajar ilmu matematika modern, setelah tamat ia pergi ke Paris tetapi karena merasa bosan ia kemudian mengasingkan diri ke Faubourg sebuah desa yang sunyi di Prancis, ditempat pengasingan itu ia belajar Geometri namun karena teman-temannya menemukan persembunyiannya ia lalu menyamar dan memutuskan masuk menjadi tentara di Belanda, tetapi situasi yang damai mendukung meditasi yang ia lakukan, selama dua tahun pada usia 20 tahun di Belanda barulah ia mulai menulis dan menyusun karya-karyanya.

3.  Karya-karya Rene Descartes

Tahun 1630 sampai 1634, Rene Descartes berhasil menerapkan metodenya hampir seluruh studi ilmu pengetahuan. Ia bahkan terlibat dalam berbagai riset besar dalam bidang optik, meteorology, matematika, dan beberapa cabang ilmu lainnya. Rene Descartes menulis banyak buku filsafat yang mendukung pemikirannya, seperti Rules for the Direction of the Mind, buku yang memuat garis besar metodenya. Kemudian tahun 1633 merampungkan buku Le Monde, mengenai gambaran umum dunia versi Rene Descartes, yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran Copernicus. Namun buku ini tidak sempat diterbitkan, setelah ia melihat Galileo yang didakwa oleh otoritas gereja karena mendukung teori Copernicus. Sebagai gantinya pada tahun 1637, ia menerbitkan karyanya yang paling terkenal, Discourse on the Method for Properly Guiding the Reason ( yaitu mengenai konsep berpikir dalam pengertian yang luas ) and Finding Truth in the Science dan Meditationes de prima Philosophia (1641).( yaitu membahas tentang metafisik atau menganalisis tentang sesuatu yang apakah itu masuk akal atau tidak misalnya keberadaan Tuhan dan hubungannya dengan jiwa manusia). Untuk berpikir dan mempertanyakan tentang kepastian,bagaimana tubuh ( indra manusia) berhubungan dengan pikiran.

4.   Pemikiran-pemikiranNya

Filsafat Descrates yang menarik adalah caranya memulai,  ia meneliti sejumlah paham keliru yang berkembang pada masa itu, yang kemudian memutuskan agar dia dapat mencapai kebenaran, dia harus memulai segalanya dari nol yakni dengan berdiri di atas keyakin sendiri dengan konsep Rasional. Namun cara yang dilakukan Rene sangat berbeda dia memulai dengan meragukan segala hal tanpa melihat adanya kebenaran yang mutlak sedikitpun. Semua hal yang diajarkan oleh gurunya, semua kepercayaan yang selama ini dianutnya, semua pemikiran yang tampak masuk akal, bahkan keberadaan dirinya sendiri, semua diragukan oleh Rene Descartes. Bagi Rene mengajarkan tidak boleh memulai segalanya dengan kepercayaan, tetapi dengan keraguan. Hal tersebut sangat bertentangan dengan pemikiran para filsuf abad pertengahan yang mengajarkan untuk mendahulukan kepercayaan di atas segalanya. Dalam filsfatnya, ia menegaskan perbedaan antara nalar dan objek materialnya. Pernyataan yang dibuat oleh Rene Descartes memicu perdebatan teoretis, dan membangkitkan minat para filsuf untuk mencari solusinya. Namun apa yang telah dimulai oleh Rene Descartes tidak dapat terpecahkan hingga sekarang. Rene Descartes sangat menyukai melakukan riset ilmiah untuk membuktikan sebuah hal, dengan cara ini ia bisa percaya bahwa penerapan-penarapan praktis dari riset ini dapat memberi manfaat lebih baik bagi masyarakat. Dia mengatakan bahwa para ilmuwan harus menghindari pandangan-pandangan yang tidak rasional, dan harus mencoba menggambarkan dunia melalui persamaan-persamaan matematika. Rene Descartes percaya bahwa seluruh dunia, kecuali Tuhan dan jiwa manusia, beroperasi secara mekanik. Karena itulah Rene Descartes percaya semua peristiwa dapat dijelaskan melalui percobaan-percobaan ilmiah, sehingga ia menolak berbagai bentuk sihir, astrologi, dan takhayul lainnya.

5. Konsep Rasionalisme Rene Descartes

Secara etimologis rasionalisme berasal dari bahasa inggris rationalism yang berasal dari kata ratio yang berarti akal. Jadi rasionalisme adalah pandangan bahwa pengetahuan diperoleh, tidak hanya lewat pengalaman saja tetapi ilmu pengetahuan utu juga harus bertitik temu pada pengalaman. Bagi Rene dasar filsafat harus memakai akal bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci bukan yang lainnya. ini karena pada saat itu Filsafat Kristen telah dimulai lebih dahulu sebelum Rene mengembangkan Konsep Filsafat nya yang lebih menggunakan Rasional.

COGITO ERGO SUM, dalam bahasa latin yang artinya I think, therefore I am  atau aku berpikir, maka aku ada. Merupakan salah satu cetusan terkenal dari Rene Descartes. Cara berpikir Rene adalah selalu meragukan semua hal secara sistematis. Tindakan meragukan yang dilakukannya justru memberikan bukti adanya kepastian. Kesimpulannya menghasilkan pemikiran-pemikiran sbb:

1.  Dualisme interaktif yaitu membedakan secara tajam antara dua substansi manusia, yaitu tubuh dan jiwa.

a. Tubuh

Tubuh adalah keluasan. Tubuh tanpa jiwa hanyalah seperti mesin yang digerakkan secara mekanis oleh stimulus eksternal dan emosi, namun tanpa kesadaran.

b. Jiwa

Jiwa esensinya adalah kesadaran dan berpikir, keberadaannya tidak bergantung pada ruang dan waktu. Jiwa tanpa tubuh bisa mempunyai kesadaran, tetapi ia hanya akan memiliki ide-ide bawaan saja. Jiwa menambah rasionalitas dan kehendak pada sebab-musabab perilaku.

2.  Ideae Innatae (ide-ide bawaan)

Ide-ide yang tidak bergantung dari pengalaman, tapi memang sudah ada dalam diri manusia sejak lahir

a. Pemikiran (cogitans)

Memahami bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir, karena itu harus diterima bahwa pemikiran juga merupakan hakikat diri manusia.

b. KeTuhanan (dues)

Keberadaan Tuhan yang sempurna adalah pasti. Ide sempurna yang dimiliki manusia adalah karena kesempurnaan Tuhan yang menciptakan baik materi maupun jiwa adalah pasti.

c. Keluasan (extentio)

Segala sesuatu di sekitar kehidupan yang dapat dipelajari dan dipahami menurut satuan geometris, sehingga dapat dijelaskan materi sebagai keluasan.

Paham dualisme Rene ini menyebabkan ia kesulitan mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya. Ia beranggapan bahwa konflik-konflik selalu terjadi antara jiwa dan tubuh. Pada akhirnya diambil kesimpulan bahwa pertarungan antara tubuh dan jiwa tidak lain adalah esensi dari kondisi manusia yang sebenarnya.

Tidaklah mudah untuk membuat definisi tentang rasionalisme sebagai suatu metode memperoleh pengetahuan, karena aliran ini beranggapan bahwa sumber pengetahuan bersumber dari akal, bukan berarti rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman dipandang sebagai perangsang pikiran. para penganut aliran ini berasumsi bahwa kebenaran dan kesesatan terletak didalam ide kita dan bukan-nya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran bermakna sebagai mempunyai ide yang sesuai dengan atau yang menunjukkan kepada kenyataan maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.


penulis 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wara dan hubungannya dengan Agama ( suku Dayak Tewoyan : Penelitian )

VIRUS CORONA DAN PEMAHAMANNYA DARI SEGI TEOLOGIS

The Law Of Attraction