Wara dan hubungannya dengan Agama ( suku Dayak Tewoyan : Penelitian )

 

AGAMA SUKU DAN PENGERTIANNYA

Agama adalah kepercayaan yang diyakini memiliki pengaruh besar bagi keselamatan dan keberlansungan hidup manusia. Demikian besarnya peran Agama sehingga tidak dapat dipisahkan dari realita kehidupan masyarakat pada umumnya. Bersamaan dengan Agama, hadir pula kepercayaan lain yang dipandang sebagai bagian lain dari kepercayaan diluar sistem keagamaan itu yaitu sebuah kepercayaan yang dipandang sebagai sesuatu yang mutlak dan benar meskipun kepercayaan ini sering kali memiliki tata cara dan pedoman yang berbeda secara Alkitabiah  tetapi oleh masyarakat ia tetap dianggab memiliki nilai ketuhanan dan adab yang bisa dipercayai, ini adalah suatu realita yang tidak dapat ditolak bahwa ada sebuah masyarakat yang juga percaya hal lain diluar pedoman Alkitabiah.

     Mereka menyebutnya sebagai Agama Suku, yaitu Agama yang lahir dari suatu sistem kepercayaan turun temurun yang berkaitan dengan roh-roh gaib,penunggu gaib disuatu wilayah,hutan batu,air atau pohon.,dan adanya roh leluhur. Kepercayaan ini yang seringkali bertentangan dengan Agama yang dianggab sebagai satu-satunya ajaran yang mutlak kepada Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu perbedaan pandangan dan kepercayaan yaitu mengenai kematian dalam versi agama maupun kepercayaan menurut Suku, maka dalam tulisan ini penulis berupaya mencoba membahas fenomena dan realita dengan menyertakan beberapa sumber untuk menjawab permasalahan yang ada.

BAGAIMANAKAH ASALNYA ?

     Agama suku adalah agama yang muncul dari kepercayaan turun temurun. Kepercayaan ini juga berhubungan dengan roh-roh dan benda-benda yang memiliki kekuatan gaib seperti batu, pohon,sungai,makam dan beberapa tempat yang dianggab keramat bagi warga setempat. Penyebab adanya kepercayaan ini adalah tidak lepasnya kehidupan manusia dengan alam sekitar. Alam sekitar dimana manusia tinggal dan hidup juga seringkali turut mempengaruhi pola pikir dan pandangan manusia itu. Termasuk juga mengenai keyakinan dan kepercayaannya.

     Hal menarik yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia adalah tentang misteri kematian yang hingga kini masih menjadi pertanyaan yang sulit dijawab. Berbagai penelitian turut dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada,namun itu semua tidak dapat membuktikan jawaban yang benar-benar tepat untuk menjawab hal itu banyak upaya yang melibatkan kepercayaan baik rasional maupun irasional. Pemahaman dilihat bukan lagi berdasarkan pengetahuan Agama saja. Unsur-unsur disekitar kehidupan juga turut menjadi media yang dipercayai mampu menjawab rasa penasaran itu hal ini dijadikan sebagai alat utama yang dapat membantu orang untuk menjawab pertanyaan dan rasa keingintahuan yang muncul dalam benak mereka. Sehingga apa saja yang ada dan menarik perhatian maka itu bisa menjadi sumber untuk meneliti dan mengamati. Seringkali roh dan tokoh leluhur dikaitkan juga dengan semua yang terjadi karena mereka juga dipercaya sebagai bagian dari sisi lain kehidupan yang hanya terpisah tipis secara kasat mata.

Pandangan tentang Kematian dalam Agama Suku

     Dalam salah satu bukunya yang berjudul sosiologi Agama (1965). Weber memulai analisnya dengan mengemukakan apa yang dianggabnya merupakan bentuk yang paling dasar dari kepercayaan dan tingkah laku keagamaan dalam agama-agama pada masyarakat sederhana.[1] Menurut Weber perbuatan dan sikap yang dilakukan oleh masyarakat pada umumnya adalah karena mereka juga berharap keselamatan dan kebaikan yang terjadi sebagai jawaban dari perbuatan mereka

     Kematian adalah salah satu akhir kehidupan yang akan menimpa siapa saja. Terlebih sekalipun ia manusia yang memiliki iman kepada agamanya dengan begitu kuat. Atau dia yang biasa-biasa saja dalam hidupnya. Erat kaitannya dengan sebuah kepercayaan,bahwa dimanapun manusia berada akan selalu ada kepercayaan yang dianutnya. Kepercayaan inilah yang akan menentukan selamat atau tidak yang akan dialaminya nanti. Dalam beberapa suku tertentu kepercayaan akan ini akan menjadi berbeda sesuai latar belakang yang di anut. Namun tidak semua tentang kematian itu memiliki makna yang sama. tiap-tiap suku di Indonesia memiliki pola pandang yang berbeda. Demikian pula acara yang akan dilakukan pada setiap proses kematian yang akan dilakukan dari masing-masing suku.

Kehadiran Agama Suku sebagai Realitas Sosial

     Berbeda dengan Agama pada umumnya, Agama Suku menjadi lebih mudah dipahami ketimbang Agama yang memiliki pandangan secara Alkitabiah.  Hal ini disebabkan pendekatan untuk memahami setiap kejadian menjadi lebih sederhana dan menyesuaikan dengan adat istiadat setempat. Bertindak mempertahankan realitas dunia yang dibangun secara sosial yang didalamnya manusia eksis dalam kehidupan sehari-hari.[2]Agama Suku adalah sebuah realitas sosial yang tidak dapat ditolak dari kehidupan masyarakat yang pada umumnya. Setiap daerah dan suku memiliki ciri khas dan pola pandang yang berbeda. Maka pola pandang yang dimaksudkan adalah kematian yang menurutnya memiliki hubungan yang kuat dengan roh-roh leluhur.

     Terlebih jika kematian tidak wajar, maka akan selalu dikaitkan dengan roh-roh gaib,yang bersemayam disekitar atau karena kemarahan alam. Pada posisi ini maka agama suku menjembatani kepercayaan ini sebagai agama yang dinilai lebih dekat dengan Alam semesta atau alam sekitar manusia. Agama Modern atau Agama Kristen seringkali rumit untuk dipahami. Sehingga peran Agama suku mengambil alih kepercayaan masyarakat sebagai sebuah realitas sosial yang tidak dapat ditolak atau tidak mudah dihilangkan.

Kematian dalam Pandangan Suku Dayak Tewoyan

     Suku Dayak Tewoyan adalah salah satu suku  Dayak yang tinggal di Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari Suku dayak Tewoyan tidak begitu kelihatan indentitasnya sebagai suku Dayak Tewoyan ditengah-tengah perubahan dan kemajuan zaman banyak dari suku Dayak Tewoyan yang berbaur hidup bersama suku-suku Dayak lainnya. Suku Dayak ini tidak terlihat oleh karena mudahnya mengikuti perubahan. Mengamati dari segi berbahasa juga cenderung mengalah dan memakai bahasa orang lain dalam pergaulan sehari-hari.namun, dalam hal kepercayaan dan adat dari Suku yang asli. Suku Dayak Tewoyan punya versi tersendiri yang tidak dapat disamakan dengan suku Dayak lainnya. Dalam hal pernikahan,kelahiran maupun kematian Suku Dayak Tewoyan memiliki kepercayaan Khusus. Terutama yang akan penulis bahas kali ini adalah acara Wara dan kematian dalam Pandangan Suku Dayak Tewoyan.

     Wara adalah acara untuk memperingati kematian dan merupakan puncak tertinggi dari semua kegiatan yang dilakukan. Wara dalam versi suku Dayak Tewoyan tidak sama dengan wara yang dilakukan oleh suku Dayak lainnya. Walaupun dalam suku Dayak Maanyan, Wara yang dalam bahasa Tewoyan juga berarti sama dalam Bahasa Dayak Maanyan juga disebut “Aruh”. Pandangan tentang kematian juga berbeda dengan seluruh proses yang ada yang dilakukan untuk memperingati kematian seseorang.

     Suku Dayak Tewoyan memiliki tradisi kuat kisah yang turun temurun dari Nenek Moyang. Yakni tentang kepercayaan adanya roh-roh leluhur yang bersemayam di Gunung Lumut. Roh leluhur yang bersemayam di Gunung Lumut adalah roh orang mati yang sudah sampai ke tempat tertinggi dalam versi Dayak Tewoyan. Dari hari pertama hingga hari ketujuh proses kematian dilakukan sesuai dengan aturan agama Suku. Agama Suku dalam versi Suku Dayak Tewoyan yag dimaksudkan adalah agama Kaharingan yang dilakukan sesuai kebiasaan orang Suku Dayak Tewoyan.

     Pada saat Jenazah masih ada, Jenazah tidak serta merta cepat disemayamkan. Tujuh hari mayat masih dibiarkan ada didalam rumah duka. Sebelum pada hari ke delapan akan dikuburkan. Jangka waktu yang lama bukan alasan,melainkan karena prosesi kematian seperti persiapan untuk pemakaman yang tidak boleh sembarangan. Peti mati umumnya diharuskan menggunakan kayu kuat yaitu dari Kayu Jati pilihan. Areal pemakaman juga dibuat sedemikian kuat dan berbeda dengan makam pada umumnya. Hal inilah yang membedakannya dengan acara kematian dari kepercayaan menurut Agama Kristen.

     Baju pakaian dan perabot orang yang meninggal akan dikumpulkan dan dibawa untuk turut dikuburkan bersama jenazah. Selain itu proses kematian juga tidak selesai sampai disitu saja. Masih ada proses lain yang dipercayai perlu dilakukan agara roh orang yang meninggal tidak sia-sia atau terlantar.[3] Lewat tujuh hari sampai 1000 hari acara untuk memperingati kematian masih dilakukan. Atau dalam hitungan 3 tahun yang dalam bahasa dayak setempat dinamakan “Nglangkang” acara ini adalah acara untuk merawat atau menjenguk makam, yang mana dalam kepercayaan masyarakat setempat apabila makam yang meninggal tidak dipelihara maka rohnya juga akan sengsara.

     Makam yang tidak terawat juga membawa dampak bagi yang meninggal dilambangkan sebagai rumahnya di alam kematian yang tidak terawat. Dalam hal ini orang yang masih hidup berperan penting dan masih memiliki hubungan yang kuat dengan orang yang meninggal. Hal ini dibuktikan dengan dilaksanakannya Wara. Wara adalah puncak dari semua acara untuk memperingati orang yang meninggal. Apa bila sudah dilakukan Wara maka roh yang sudah meninggal sudah dianggab sampai kepada tujuan. Dan benar-benar selesai berurusan dengan dunia ini.

     Tukang Balian berperan penting sebagai pemandu prosesi untuk memperingati kematian karena tukang Balian dianggab sebagai perantara. Tukang Balian ini yang akan membantu proses Wara itu berlansung. Mengorbankan Sapi atau Kerbau adalah puncak dari acara yang dilakukan. Korban hewan dilambangkan sebagai pengganti bagi roh atau penebusan bagi orang yang meniggal. Selain itu juga bermakna keselamatan bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan. Seperti yang diketahui bahwa Wara adalah puncak dari acara yang dilakukan untuk orang meninggal. Maka Wara juga dianggab sebagai perantara bagi roh yang meninggal untuk sampai kepada dunianya yang menyenangkan seutuhnya.

     Acara Wara ada dilakukan penyembelihan hewan sebagai korban. Ini juga berarti melunaskan utang jika yang meninggal semasa hidupnya masih memiliki hutang. Dengan makna ini secara keseluruhan juga menebus atau membayar beban yang masih tersisa. Sehingga acara Wara menjadi sangat membantu roh yang meninggal untuk mati dalam keadaan tenang. Sebab apa bila masih ada yang belum diselesaikan maka itu berarti roh masih tersesat.

     Gunung Lumut adalah salah gunung yang terletak di Kabupaten Barito Utara. desa terdekat nya adalah desa Mea yaitu desa yang berada di kecamatan Gunung Purei. Gunung ini adalah tempat akhir dari penghantaran roh orang meninggal yang dipercaya mendiami Gunung Lumut. Gunung Lumut adalah Gunung yang ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang kecil dan kerdil. Tumbuhan ini tidak bisa besar atau tinggi. Disana banyak tumbuh bunga-bunga dan pohon kayu yang semuanya kecil dan tidak bisa besar. Air yang mengaliri sungai sekitar gunung ini adalah air yang berwarna merah kehitaman. Dengan dataran tinggi yang terdapat banyak bebatuan. [4]

     Semua orang yang melaksanakan wara akan menghantarkan barang-barang orang yang sudah meninggal beserta dengan tulang-tulang untuk dihanyutkan. Dipercaya roh-roh ini akan sampai digunung lumut. Gunung yang diyakini sebagai surga nya roh orang mati. Menurut Agama Kaharingan Versi Dayak Tewoyan.

Kematian Dalam pandangan Agama Kristen

     Kematian dalam pandangan agama Kristen tidak lah serumit pandangan didalam Agama Suku. Bagi orang Kristen kematian sudah merupakan akhir dari kehidupan. Artinya segala sesuatu sudah selesai dan bagi yang sudah meninggal. Hanya iman dan amal perbuatanlah yang masih terus hidup dan menjadi kenangan kepada orang yang masih hidup. Keberadaan manusia sudah dianggab terhapus sepenuhnya. Hanya tinggal pertanggungjawaban dihadapan Tuhan dan berdampak baginya nanti setelah di kehidupan yang akan datang. Tidak ada lagi prosesi atau acara yang dilakukan. Seperti dalam kepercayaan agama suku. 1 Korintus 15:45 berkata bahwa hidup manusia terdiri dari Roh yang berasal dari Allah. yang akan kembali juga kepada Allah yang menciptakannya. Jadi kematian bukan lagi urusan manusia tetapi urusan Allah dan Allah lah yang berhak memutuskan kemana arahnya roh manusia itu. dalam proses  yang dilakukan manusia hanya terlibat untuk menguburkan jenazah dengan layak. Selain dari pada itu jika ada acara-acara lain,manusia yang hidup hanya melakukan nya untuk mengingat kenangan. Atau hal-hal yang berkesan selama ia masih hidup.

     Kematian Kristus di kayu salib menjadi simbol penebusan yang universal. Manusia yang beriman dan percaya kepada Yesus dianggab sudah selamat dan memperoleh keselamatan dengan anugerah secara cuma-cuma. Manusia tidak lagi perlu merepotkan orang yang masih hidup. Barang-barang yang fana ditinggalkan dan dilepaskan. Jadi syarat untuk menerima kematian sebagai rahmat penebusan adalah iman akan Kristus yang bangkit. Sebab Yesus sendiri sudah memenangkan dengan bangkit dari maut. Yohanes 11: 22-56.

Tukang Balian adalah perantara

     Jika dalam agama Kristen Yesus dilambangkan sebagai perantara atau penebus manusia. Maka dalam acara Wara peran tukang Balian adalah perantara bagi roh orang yang meninggal itu. Dalam acara Wara barang-barang dan tulang orang yang mati itu,diantarkan ke gunung Lumut. Jika tidak ada perantara maka proses acara tidak bisa dijalankan,karena hanya perantara (tukang Balian) yang mengerti bahasa Balian atau nama roh. Hanya perantara yang bisa terhubung dengan dunia lain itu.

Yesus adalah perantara bagi manusia dan Allah

     Yohanes 14: 6 Yesus berkata bahwa tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada Bapa,jika tidak melalui Yesus. Yesus menjadi perantara antara roh manusia dengan Allah. pada poin ini ada pandangan yang mengarah hampir kepada tujuan yang sama.

Evaluasi dalam upaya menjawab permasalahan perbedaan keyakinan

     Jelas dengan melihat kedua pandangan yang berbeda, maka dua anggapan ini tidak dapat di satukan sebagai sebuah kepercayaan yang dapat berjalan beriringan. Sekalipun keduanya dapat berdampingan namun tetaplah kedua pendapat dan kepercayaan itu berada tetap pada tempatnya masing-masing. Secara utuh dan kuat tetap memungkinkan untuk saling bergesekan dan menimbulkan perselisihan tetapi sejauh ini dengan melihat pola kehidupan suku Dayak Tewoyan dalam agama Suku, penulis belum menemukan konflik yang berarti karena kehidupan masyarakat dayak pada umumnya digambarkan damai dan saling menerima satu sama lain

ANALISIS DAN TANGGAPAN PENULIS

Analisis :

Sebuah tindakan disebut ritus keagamaan bukan karena isi dari tindakan itu melainkan karena arti atau makna yang diberikan oleh kelompok agama bersangkutan.[5] Dengan melihat fenomena agama Suku yang terjadi dalam acara Wara maka penulis  melihat sebenarnya pertentangan atau perbedaan itu tipis dan tidak menjadi masalah yang besar. Karena makna keselamatan dan tujuan yang hendak dicapai adalah satu yaitu keselamatan bagi jiwa yang meninggal

Tanggapan :

Kebiasaan dalam melaksanakan acara Wara adalah hal yang wajar, karena selain bermakna keagamaan. Wara juga menjadi simbol kebudayaan masyarakat Dayak, terutama masyarakat suku Dayak Tewoyan. Sifat tenang dan damai meski hidup ditengah-tengah beragam kebudayaan masyarakat tetap dapat saling berdampingan.

 

                      DAFTAR PUSTAKA 

Sumber Buku :

Raho SVD, Bernard Agama Dalam Persfektif Sosiologi,( Jakarta:   OBOR 2003) 13

          Berger, Peter L,Langit suci Agama sebagai Realitas Sosial,( Jakarta; LP3ES,1991)52

 

Sumber Wawancara :

          Karmuli, Warga Desa Kandui Wawancara melalui sambungan Telepon pada Rabu 2 Oktober 2019. Pukul 23.00 Wita



                [1]Bernard Raho SVD, Agama Dalam Perspektif Sosiologi, (Obor: Katolik Indonesia) 59

                [2] Peter L. Berger, Langit suci Agama sebagai Realitas Sosial,( Jakarta; LP3ES,1991)52

                [3]Karmuli, Warga Desa Kandui Wawancara melalui sambungan Telepon pada Rabu 2 Oktober 2019. Pukul 23.00 Wita

                [4]Ibid.,

                [5]Bernard Raho SVD, Agama Dalam Persfektif Sosiologi,( Jakarta: OBOR 2003) 13




di tulis oleh Meliani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

VIRUS CORONA DAN PEMAHAMANNYA DARI SEGI TEOLOGIS

The Law Of Attraction