Belajar dari teladan Maria Lukas 2:16;51

 

Shalom selamat berjumpa kembali dalam renungan kita hari ini,

Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus. Amen. Filipi 4:7

Mari kita buka Kitab Perjanjian Baru Lukas 2:19 yang berbunyi demikian :

Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Dalam nast ini dikatakan bahwa Maria menyimpan perkara di dalam hatinya, perkara apa saja yang di simpan Maria dalam hati nya, mengapa sampai ia menyimpan nya di dalam hati dan memilih merenunginya, tetapi  mari kita mengenal bagaimana sosok Maria sesungguhnya terlebih dahulu .

Maria adalah perempuan pilihan yang menjadi ibu Juruslamat yaitu Yesus Kristus, ia terpilih karena anugerah Allah yang mengasihinya di antara perempuan-perempuan pada zamannya Maria adalah perempuan yang diberkati karena iman dan kesuciannya serta ketaatannya pada kehendak Allah. Allah memilih Maria untuk mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Yesus, Maria berserah dan mau percaya, ia berani menerima pesan dan rencana Allah atas dirinya.

Lukas 2:19 di dahului dengan peristiwa antara Maria dan gembala-gembala yaitu ketika para gembala datang mengunjungi bayi Yesus dan menceritakan pengalaman mereka melihat malaikat Tuhan di padang ketika menjaga domba. Puncak dari Mendengar kesaksian yang disampaikan oleh para gembala itu lah kita menemukan akhir dari nast ini yaitu maria merespon dan menyimpan di dalam hatinya.  Hingga para gembala itu kembali lagi ke padang sampai memuji-muji Allah.

Lalu bukan hnya itu saja terdapat dua peristiwa di dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa Maria menyimpan perkara dalam hatinya. Peristiwa yang kedua adalah ketika Yesus di temukan di bait Allah pada usia 12 tahun yakni terdapat dalam Lukas 2:51

Kita dapat melihat bagaimana Maria merespon keadaan yang di alaminya, meskipun nast tidak menjelaskan perasaan Maria pada saat itu, tetapi sebagai sesama manusia tentu saja kita dapat membayangkan entah itu menakjubkan, membingungkan, menyedihkan atau pun menakutkan bagi Maria, tetapi ia memilih diam dan merenunginya.

Suatu pilihan yang sulit jika itu terjadi pada kita, apakah kita akan meneladani Maria ? mungkin memang benar kita hidup pada konteks yang berbeda, tetapi yang pertama-tama adalah kita dapat belajar dari kisah hidup Maria.

Maria mengandung pada saat bertunangan dengan Yusuf, adalah sebuah perkara yang tidak mudah, memang tidak dijelaskan di dalam Alkitab apa yg terjadi setelah Maria benar2 mengandung, apakah Maria dihina atau dikucilkan, begaimana respon keluarga, dan orang-orang di sekitarnya ? tentu kita dapat membayangkan respon yang sebaliknya diterima Maria dan bagaimana ia harus bersikap?

Mungkin Maria akan lebih banyak diam dan memilih berdoa ? sepertinya kita percaya itu yang terjadi,karena kita tau bahwa Maria adalah sosok wanita yang begitu taat kepada Allah.

Pada peristiwa yang kedua yaitu ketika Yesus tertinggal di Bait Allah, Maria dan Yusuf harus kembali mencari Yesus, sebagai seorang ibu perasaan khawatir terhadap anak di alami juga oleh Maria, mereka harus kembali dalam perjalanan yang jauh, pastilah ditengah rasa khawatir ada juga kelelahan dalam perjalanan yang memungkinkan rasa marah atau kesal sebagai orang tua. Tetapi dalam hal ini pun Maria ternyata memilih diam dan menyimpan di dalam hati trhadap apa yang dialaminya.

Jika kita pada posisi Maria apakah kita akan memilih diam dan menyimpan di dalam hati ? atau kita akan marah habis-habisan , emosi dan membentak, atau mengumbar di sosial media ? dewasa ini banyak ragam peristiwa yang sungguh sangat memancing respon kita

Adalah sungguh tidak mudah untuk diam dan bersabar, saya mengakui bahwa ini sulit, mungkin sama hal nya dengan pendapat yang lain, tetapi dalam renungan kali ini kita menemukan teladan dan pelajaran berharga, apakah kita dapat menerapkannya dalam kehidupan kita, silahkan kita jawab dalam hati kita masing-masing, Tuhan memampukan kita dan menolong kita.

Mari Kita berdoa...

 

Bapa yang pemurah,

Terimakasih telah mengasihi kami, kami mengakui bahwa sampai detik ini kami sering menyusahkan Tuhan,baik dalam perkataan, tindakan dan pikiran kami ampuni lah kami

Biarlah melalui kesabaran dan kemurahan hati mu itu,  kami boleh dimampukan untuk bersabar dan terus mengasihi sesama kami dalam situasi dan keadaan apapun m

 

. Terimakasih Tuhan. amen



meliani

 

 

 

Komentar